Nata de coco ( made in Kranggan, Galur)


Peluang Usaha Nata de Coco.

Nata de coco adalah produk komersial dalam industri makanan yang sangat

digemari karena bermanfaat untuk memperlancar pencernaan dan cocok untuk

menu diet. Hal ini disebabkan oleh kandungan seratnya yang tinggi. Secara

kimiawi, serat yang terkandung di dalam nata de coco adalah selulosa. Sementara

itu, studi mengenai selulosa sudah sangat meluas baik terhadap senyawaan

selulosa itu sendiri maupun terhadap senyawa-senyawa turunannya.

Sato, T., et al (1988) dari Universitas Tokyo telah mengembangkan

senyawaan selulosa yang dapat menghasilkan aktivitas redoks spesifik dengan

memodifikasi senyawaan tersebut sedemikian rupa sehingga memiliki gugus

bermuatan. Dalam perkembangan di bidang kimia analitik, utamanya dalam

bidang sensor, senyawaan selulosa dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai

bahan untuk pembuatan elektrode selektif ion atau ion selective electrode (ISE).

Tanabe, T., et al (2001) melaporkan bahwa membran selulosa sangat berguna

sebagai matriks (material pendukung) dalam fabrikasi sensor kimia untuk

mendeteksi suatu molekul.

Nata de coco atau bacterial cellulose merupakan salah satu sumber

alternatif bagi penyediaan selulosa dimana bahan ini lebih mudah dibuat, mudah

diolah, dan mudah diperoleh dengan biaya produksi yang lebih murah. Studi

mendalam terhadap nata de coco untuk berbagai bidang aplikasi sangat diperlukan

untuk meningkatkan nilai tambah bagi produk nata de coco dan tidak terbatas

pada pemanfaatannya sebagai produk makanan.

Iguchi et al (2001) menunjukkan bahwa nata de coco (bacterial cellulose)

memiliki struktur kristal yang idendik dengan struktur kristal selulosa tumbuhan.

Indrarti, L. dan Yudianti, R. (1995) telah mempelajari pengaruh alkali terhadap

sifat fisis dan mekanis dari nata de coco sedangkan Piluharto, B. (2001) telah

mempelajari kemungkinan penggunaan selulosa dari nata de coco sebagai

membran ultrafiltrasi.

Studi modifikasi struktur nata de coco melalui proses kopolimerisasi belum

banyak dilakukan. Pada tahun 1990, Lokhande dan Thakare telah melakukan

pembentukan kompleks selulosa-etilendiamin melalui sistem fasa cair maupun

3

fasa gas. Akan tetapi, kompleks yang terbentuk sangat mudah terdegradasi pada

berbagai sistem cairan. Dalam penelitian ini, dipelajari proses modifikasi nata de

coco menggunakan etilendiamin untuk menghasilkan membran selulosa dengan

sifat-sifat yang lebih unggul dibandingkan membran selulosa yang telah ada.

Dipelajari pula kemampuan membran nata de coco-etilendiamin (nata-en) dalam

mengikat ion Cu2+ serta karakteristiknya dalam larutan logam Cu2+.

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: blender,

nampan plastik, hot plate, mikrometer, neraca analitik, stirrer magnetik, stop

watch, pH meter, penyaring Whatmann, vacum water pipe, press kaca, spektronic

21D, spektrofotometer UV-VIS merk Shimadzu tipe UV-365, spektrofotometer

infra merah (FT/IR-5300 merk Jasco) serta beberapa peralatan gelas.

Bahan yang digunakaan meliputi: air kelapa, gula pasir, Acetobacter

xylinum, amonium sulfat, asam asetat glasial, natrium hidroksida, etilendiamin

monohidrat, etanol absolut, asam sulfat, aquades, dan CuSO4

. 5H2O.

TAHAPAN PEMBUATAN NATA DE COCO

1. Persiapan media starter/ Bibit Nata De Coco
Starter atau biakan mikroba merupakan suatu bahan yang paling penting dalam pembentukan nata. Sebagai starter, digunakan biakan murni dari Acetobacter xylinum. Bakteri ini dapat dihasilkan dari ampas nenas yang telah diinkubasi ( diperam) selama 2-3 minggu. Starter yang digunakan dalam pembuatan nata sebanyak 170 ml.

2. Penyaringan dan Pendidihan
Untuk menghilangkan kotoran yang bercampur pada air kelapa dilakukan penyaringan air kelapa dengan menggunakan kain saring. Kemudian campurkan gula pasir ( 100 g/Air kelapa)  0.06% (NH4)2SO4dengan air kelapa(1 ltr) lalu didihkan dan dinginkan.

3. Inokulasi (Pencampuran dengan starter)
Setelah dingin, pHnya diatur dengan menambahkan asam asetat atau asam cuka sekitar 20 ml hingga diperoleh kisaran keasaman (pH) 3-4. Kemudian diinokulasi dengan menambahkan starter (Acetobacter xylinum) 170 ml.

4. Fermentasi (Pemeraman)
Masukkan campuran tersebut ke dalam wadah fermentasi ( baskom berukuran 34 x 25 x 5 cm ). Wadah ditutup dengan kain saring dan diletakkan ditempat yang bersih dan aman. Dilakukan pemeraman selama 8-14 hari hingga lapisan mencapai ketebalan kurang lebih 1.5 cm.

5. Pemanenan
Setelah pemeraman selesai dengan terbentuk lapisan nata,lapisan nata diangkat secara hati-hati dengan menggunakan garpu atau penjepit yang bersih supaya cairan dibawah lapisan tidak tercemar. Cairan dibawah nata dapat digunakan sebagai cairan bibit pada pengolahan berikutnya.Buang selaput yang menempel pada bagian bawah nata, dicuci lalu dipotong dalam bentuk kubus dan dicuci.

About retnoyuniarti

Tak ada gunanya meresahkan hari esok yg tak pasti... Lakukan yg terbaik hari ini...

Posted on September 4, 2010, in Home industri. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: